Negara-negara Asia semakin menyadari pentingnya coding dan literasi digital sebagai keterampilan dasar abad ke-21, yang mendorong integrasi mata pelajaran ini ke dalam kurikulum sekolah formal. Langkah ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi pasar kerja yang didominasi oleh teknologi dan inovasi.
Program ini sering dimulai dari tingkat pendidikan dasar, memperkenalkan konsep berpikir komputasi dan pemrograman sederhana. Korea Selatan, Singapura, dan Tiongkok telah menjadi benchmark regional dalam mendorong pendidikan STEM dan coding secara agresif.
Integrasi ini juga bertujuan untuk menjembatani kesenjangan keterampilan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Literasi digital diajarkan tidak hanya sebagai penggunaan perangkat, tetapi juga sebagai pemahaman etika digital, keamanan siber, dan berpikir kritis terhadap informasi online.
Tantangan utama adalah melatih guru yang memadai dan memastikan sumber daya teknologi (komputer dan koneksi internet) tersedia secara merata di semua sekolah. Dibutuhkan investasi pemerintah yang berkelanjutan dan kemitraan dengan sektor teknologi untuk memperkuat program ini.
Integrasi coding dan literasi digital dalam kurikulum sekolah Asia menjadi fokus untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi pasar kerja teknologi, meskipun tantangan utamanya adalah penyediaan guru terlatih dan pemerataan akses teknologi di daerah pedesaan.

